Kontrak Habis, Nasib 219 Karyawan PT Ciomas Japfa Food Sidomulyo Tanpa Kejelasan

banner 468x60

Lampung Selatan – Polemik jam waktu akhirnya meledak di Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan. 219 kepala keluarga yang bertahun-tahun jadi tulang punggung PT Ciomas Japfa Food mendadak nganggur. Kontrak vendor habis, nasib pekerja hanya iming-iming tanpa kejelasan.

PT Ciomas Adisatwa, anak usaha raksasa Japfa Comfeed yang katanya “tumpuan ekonomi warga”, kini dituding buang pekerja kayak sampah. Pabrik tetap jalan 24 jam, mesin nggak berhenti. Tapi yang muterin mesin bukan lagi tangan-tangan anak pengabdi.

“KAMI DIBUANG PADAHAL SETIA” Isak tangis pecah di warung kopi Sidomulyo. Salah satu mantan karyawan dengan suara bergetar ngomong kepada jurnalis medis.

“Kami kecewa ngabdi di situ. Pas kontrak vendor selesai, kami langsung dicoret tanpa kejelasan. Sekarang malah buka lowongan harian lepas kami khawatir hanya iming-iming karena terdesak, kami yang sudah hafal seluk-beluk pabrik kenapa di tinggalkan,” kata eks pekerja itu. Sabtu (20/6/2026).

OPERASI SENYAP DI PABRIK AYAM Fakta di lapangan bikin darah mendidih:

1. Pabrik Normal: Produksi ayam jalan terus, truk hilir mudik. Artinya butuh tenaga

2. Lowongan Diam-diam: Buka loker harian lepas tapi nggak ngasih tau ke 219 eks karyawan dulu

3. Impor Tenaga: Kabarnya malah ambil orang dari luar wilayah. Warga sekitar cuma jadi penonton

SENIN NERAKA: 219 ORANG GERUDUK PABRIK Koordinator perwakilan pekerja Amirudin nggak terima. Senin esok, bersama Gabungan Pekerja, Mahasiswa dan Masyarakat (GPMM) bakal kepung kantor PT Ciomas Japfa Food. Tuntutannya satu: DIPRIORITASKAN!

“Jangan perusahaan cuma ngasih polusi, limbah ke Sidomulyo, tapi nggak ngasih nasi ke perut warga sini. Kami siap kerja sistem apa aja borongan, harian, kontrak. Asal pekerja di prioritaskan,” tegas Amirudin, geram.

“Kami mengawal aspirasi dan nasib para pekerja yang sebelumnya disampaikan. Tanpa ada kejelasan setelah berakhirnya kontrak vendor dan kami berharap agar para pekerja sebelumnya dapat di pekerjakan kembali tanpa tebang pilih. Ketika mendesak jangan juga menjadi harapan palsu, ” ujar Heru Herwanto Ketum Gali.

DIAM SERIBU BAHASA = MENGHINA Sampai berita ini tayang, manajemen PT Ciomas Japfa Food bungkam. Nggak ada surat, nggak ada sosialisasi. Sikap “diam” itu dianggap tamparan keras buat warga yang udah nyumbang keringat bertahun-tahun.

PERTANYAAN PEDAS BUAT JAPFA:

1. Kalau butuh karyawan baru, kenapa 219 orang berpengalaman dicampakkan?

2. Ini efisiensi atau penggusuran tenaga lokal?

3. Di mana tanggung jawab sosial perusahaan “tumpuan ekonomi warga”? Warga nggak minta belas kasihan.

Mereka cuma minta hak: kerja di kampung sendiri.

Bupati Lampung Selatan dan Disnaker Lamsel, tidur nyenyak apa masih peduli 219 KK mau makan apa bulan depan? Rakyat nunggu: Japfa pilih “Peduli Sesama” atau “Buang Sesama”?

Sampai berita ini ditayangkan oleh Redaksi belum ada keterangan resmi dari perusahaan. (Red)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *